Tips Jaga Kesehatan Mental

5 Tips Jaga Kesehatan Mental Bagi Mahasiswa S3 di Luar Negeri

Tiga perempuan lulusan S3 di Australia bagikan tips untuk memelihara kesegaran mental sepanjang meniti studi doktoral di luar negeri. Tips ini bisa digunakan untuk kalian yang sedang merasa down sehingga siap melanjutkan pendidikan sampai selesai.

Apa saja? Berikut penjelasannya dikutip dari bincang-bincang di Instagram Live OptShe dan PhD Mama Indonesia “Mengejar PhD vs Keluarga: Emang Boleh Se-dilema Ini?” pada Sabtu (23/12/2023

5 Tips Jaga Kesehatan Mental Bagi Mahasiswa S3 di Luar Negeri

1. Jangan terlalu perfeksionis!

Hani Yulindrasari, Pakar Psikologi Gender, dosen, dan Ketua Satuan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyebutkan apabila tips pertama untuk menyelesaikan studi S3 di luar negeri adalah jangan terlalu memaksakan judi bola diri dan perfeksionis.

Mahasiswa boleh memiliki ambisi, tetapi lebih baik adalah ambisi yang bisa diukur. Jadi lebih baik menurut Hani, tetapkan tujuan yang bisa kami capai.

“Kalau misalkan kami terlalu perfectionist, menurutku akan sulit selesai. Kalau saya yang penting selesai, lulus, lagi ke Indonesia dan menerapkan ilmu kepada penerus bangsa nantinya,” ujar Hani.

2. Hidup seimbang

Hani menambahkan tak ada salahnya meskipun mahasiswa S3 untuk selamanya senang-senang. Ia menganjurkan untuk menjalankan ritme 8-8-8.

“Kalau memungkinkan aturlah 8 jam belajar, 8 jam istirahat, dan 8 jam have fun,” tambahnya.

Ia mengetahui hal itu terlalu sulit untuk ditunaikan mahasiswa S3 lebih-lebih mereka yang berkuliah dengan membawa keluarga. Untuk itu, Hani menambahkan setidaknya di dalam satu hari kami selamanya melaksanakan kesibukan yang memicu tubuh rileks, layaknya olahraga.

“Karena berkeluarga, langkah saya memelihara sehingga selamanya balance adalah olahraga, ke kampus naik sepeda, ikut fitness club, studi baking serupa ibu-ibu, atau hanya ke kafe menggosip dengan teman seperjuangan,” tuturnya.

3. Punya support system

Bagi Hani, memiliki support system adalah poin paling penting memelihara mental mahasiswa selamanya baik. Tentu saja mereka adalah keluarga, baik orang tua, anak-anak, ataupun suami. Meski begitu, lulusan Psikologi Universitas Gadjah Mada ini menyebutkan tak ada salahnya untuk memiliki support system atau teman yang memiliki pengalaman yang sama. Jadi, kami bisa berkeluh kesan perihal masalah yang serupa meski tak selamanya sama.

Menurutnya, mahasiswa PhD sering memiliki rasa inferioritas (merasa diri sendiri kekurangan) apabila bertemu dengan sosok yang dianggap lebih baik. Untuk itu, tak ada salahnya untuk terbuka satu serupa lainnya.

Baca juga:

Cara Dapat Beasiswa S1, S2, S3 ke China 2024, Kuliah Gratis dan Ada Uang Saku

Tips Pertanyaan Interview Kerja Beserta Tips Menjawabnya

4. Libatkan suami sepanjang PhD

Bila ketika menempuh studi S3 telah menikah, Farahdiba Rahma Bachtiar, Dosen UIN Alauddin Makassar menyebutkan kami wajib melibatkan suami atau pasangan sebagai partner di dalam perjalanan. Lebih baik terbuka sejak awal sehingga tidak mengakibatkan masalah di kemudian hari.

“PhD tentu saja bukan perjalanan yang mudah, saya yakin bagi tiap-tiap orang begitu. Tapi kami wajib mau terbuka lebih-lebih kepada orang terdekat,” ujarnya.

5. Menemukan pembimbing yang tepat

Terakhir, Kanti, founder PhD Mama Indonesia menambahkan apabila menemukan pembimbing atau supervisor yang pas terhitung membantu memelihara kesegaran mental mahasiswa. Terlebih mahasiswa perempuan sering merasakan kondisi-kondisi yang unik.

Untuk itu, penting menemukan sosok pembimbing yang bisa menambahkan pengertian. Ia mengetahui hal ini tidak ringan didapatkan, sehingga menurutnya proses pendidikan di perguruan tinggi terhitung wajib diperhatikan.

“Perguruan tinggi wajib merasa mengayalkan nih perihal bentuk-bentuk perlindungan layaknya apa secara proses atau kebijakan-kebijakan bagi mahasiswa perempuan. Misalnya menambahkan cuti yang cukup untuk ibu yang melahirkan misalnya,” ungkapnya.

Dengan tegas ia menyatakan, secara proses kampus di Indonesia atau internasional telah merasa wajib mengayalkan kebijakan yang baik. Terutama bagi mahasiswa S3 yang akan atau telah berkeluarga.