Menyoal Metode Pendidikan di Indonesia Tahun 2024

Menilik sejarah, Indonesia pernah memiliki siswa sebrilian Bacharuddin Jusuf Habibie. Ia ialah tokoh yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan cuma di Indonesia tapi juga di ajang dunia. Tetapi, apa benar kesuksesan Habibie ialah isyarat suksesnya cara pengajaran di Indonesia? Aku tidak sependapat. Data UNESCO tahun 2013 menyebutkan Indonesia menduduki peringkat 121 dari 185 negara ditinjau dari kualitas pendidikannya.

Disisi lain, kompetensi pendidik di negara dengan jumlah populasi terbanyak keempat di dunia ini tergolong sungguh-sungguh rendah. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperlihatkan, diantara 1,6 juta peserta uji kompetensi guru, lebih dari 1,3 juta diantaranya memiliki poin di bawah 60, dari rentang poin 0 sampai 100. Dari ujian ini pula, cuma 192 guru yang memperoleh poin di atas 90. Sementara hampir 130.000 di antaranya agen sbobet cuma kapabel memperoleh poin di bawah 30. Bagi saya, ini ialah hasil yang sungguh-sungguh mengecewakan. Rendahnya kapabilitas tenaga pendidik ini berimbas pada kualitas pengajaran di tiap tempat.

Kemudian, cara pengajaran atau kurikulum di Indonesia masih sering kali berubah. Munculnya kata ‘uji coba’ dan ‘kelinci tes’ ialah bukti nyata dari argumen saya. Aku sendiri, saat Sekolah Menengah Atas, secara seketika menjadi kelinci tes dari penggunaan Kurikulum 2013. Berbeda dengan kakak kelas saya, angkatan kami cuma perlu memilih satu dari tiga mata pembelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) untuk dijalankan dalam Ujian Nasional. Bagi kami, memang menjadi lebih mudah. Tetapi yang saya khawatirkan dari situasi ini ialah pemerintah masih mencari formula yang ideal sebagai cara pengajaran Indonesia. Atau jangan-jangan memang cara pengajaran yang berubah-ubah ialah cara pengajaran Indonesia sendiri?

Berikutnya, mata pembelajaran yang didominasi mata pembelajaran eksakta pun membikin saya merasa heran. Tiap siswa memiliki kecakapan dan tenaga serap yang berbeda-beda. Ada anak yang bergembira dengan matematika tapi ada anak yang lebih bergembira dengan pembelajaran seni. Einstein sendiri pernah berkata ‘Tiap orang ialah brilian. Tetapi jika kamu mengukur seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, karenanya selama hidupnya ia akan mempercayai bahwa ia bodoh’.

Sudah semacam itu, angka putus sekolah di Indonesia yang terbilang masih sungguh-sungguh tinggi. Menurut data pengajaran tahun 2010 diceritakan, sebanyak 1,3 juta anak umur 7-15 tahun terancam putus sekolah. Hakekatnya unsur yang mempengaruhi angka putus sekolah di Indonesia sungguh-sungguh pelbagai, tapi situasi sulit yang paling sering kali dijumpai ialah soal tarif. Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, menemukan fakta yang menarik dari hasil penelitian mengenai pemberian beasiswa di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.

Disebutkan bahwa sebanyak 47,3 persen responden menjawab tidak menimba ilmu lagi karena situasi sulit tarif, kemudian 31 persen karena mau membantu orang tua dengan bekerja, serta 9,4 persen karena mau melanjutkan pengajaran nonformal seperti pesantren atau mengambil kursus keterampilan lainnya. Mereka yang tidak bisa melanjutkan sekolah ini sebagian besar berijazah terakhir sekolah dasar (42,1 persen) ataupun tidak memiliki ijazah (30,7 persen).