Pengajaran Inklusif Untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (ABK) atau yang sering kali kali disebut buah hati istimewa merupakan buah hati yang memerlukan penanganan khusus sebab adanya gangguan perkembangan dan kelainan yang dialami buah hati. Berkaitan dengan istilah disability, maka buah hati berkebutuhan khusus merupakan buah hati yang mempunyai keterbatasan di salah satu atau beberapa kesanggupan baik itu bersifat fisik maupun psikologis.

Secara lazim buah hati berkebutuhan khusus bisa disimpulkan (Heward, 2002) sebagai buah hati dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan buah hati pada lazimnya tanpa senantiasa menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Istilah lain untuk buah hati berkebutuhan khusus merupakan buah hati luar lazim. Anak berkebutuhan khusus atau buah hati luar lazim merupakan buah hati yang secara pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan buah hati-buah hati pada lazimnya
Jumlah buah hati berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. PBB memperkirakan bahwa paling sedikit ada 10 persen buah hati usia sekolah yang mempunyai keperluan khusus. Di Indonesia, jumlah buah hati usia sekolah, merupakan 5-14 tahun, ada sebanyak 42,8 juta buah hati Indonesia yang berkebutuhan khusus.
Di Indonesia belum ada data sah yang dikeluarkan oleh pemerintah. Berdasarkan data terkini jumlah buah hati berkebutuhan khusus slot spaceman di Indonesia tercatat menempuh 1.544.184 buah hati, dengan 330.764 buah hati (21,42 persen) berada dalam bentang usia 5-18 tahun. Dari jumlah hal yang demikian, hanya 85.737 buah hati berkebutuhan khusus yang belum mengenyam pendidikan di sekolah, baik sekolah khusus maupun sekolah inklusi.

Sedangkan pendidikan merupakan seumur hidup. Pengajaran sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam seluruh lingkungan dan sepanjang hidup yang memberi pengaruh pertumbuhan tiap individu. Pengajaran merupakan pelaksanaan pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pendidikan dan pelatihan. Berdasarkan Longeveld (2002), mengajar merupakan memberi pertolongan secara sadar dan sengaja terhadap seorang buah hati (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju ke arah kedewasaan dalam arti bisa berdiri sendiri dan bertanggungjawab secara susila atau seluruh tindakannya berdasarkan alternatifnya sendiri.
Dalam pandangan Islam amat menekankan pentingnya pendidikan tanpa membedakan manusia. Kewajiban menuntut ilmu tidak terbatas hanya bagi beberapa atau kelompok tertentu saja akan tetapi wajib bagi seluruh manusia baik laki-laki, perempuan, berkebutuhan khusus atau normal. Pandangan Islam hal yang demikian pantas dengan firman Allah di dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13.