Prabowo Janjikan Ribuan Beasiswa Luar Negeri

Prabowo Janjikan Ribuan Beasiswa Luar Negeri

Jakarta – Direktur Institute for Demographic plus 777 slot Poverty Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono menjelaskan janji calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, untuk berikan beasiswa ke luar negeri bagi mahasiswa tak menyentuh inspirasi mendasar membuat membenahi pendidikan Indonesia. Menurut Yusuf, inspirasi mendasar membenahi proses pendidikan kudu sesuai dengan dorongan konstitusi, yakni memberikan akses pendidikan yang merata kepada seluruh anak negeri.

Prabowo Janjikan Ribuan Beasiswa Luar Negeri, IDEAS: Masalahnya Pemerataan Akses Pendidikan

Prabowo berjanji dapat buat persiapan 20.000 beasiswa ke luar negeri bagi pelajar Indonesia, bila terpilih menjadi presiden di dalam Pemilu 2024 nanti. Beasiswa itu ditujukan untuk lulusan SMa sehingga mampu studi kedokteran, sains, dan teknologi.

Menurut Yusuf, selayaknya pemerintah berfokus pada pemerataan akses pendidikan bagi seluruh anak Indonesia. Konstitusi sejak awal telah berpesan bahwa intervensi terutama negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian, pemerintah kudu menyelenggarakan sarana pendidikan yang berkualitas dan merata. Semua pelajar Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan.

Sedangkan pas ini, ia menilai cost pendidikan justru mahal dan sukar dijangkau bagi banyak anak di di dalam negeri. Karena itu, menurut dia, pemerintah telah lari berasal dari tanggungjawabnya di dalam berikan kesempatan bersekolah dan berkuliah yang merata bagi seluruh anak Indonesia.

Ia menuturkan, inspirasi progresif dan sesuai konstitusi yang selayaknya ditunaikan pemerintah adalah sekolah dan kuliah murah, apalagi gratis. Kebijakan berikut perlu pemberian anggaran yang masif. Ia menilai fungsi berasal dari pendidikan bagi perekonomian jauh lebih besar daripada cost yang ditanggung pemerintah dan masyarakat.

Di Indonesia, kebijakan sekolah gratis telah dirintis sejak 2005 untuk tingkat SD sampai SMA lewat dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). BOS diperkenalkan untuk membiarkan peserta didik berasal dari pungutan cost operasional sekolah. Sejak 2019 BOS berkembang menjadi tiga tipe yakni BOS Reguler, BOS Afirmasi dan BOS Kinerja.

Terlepas berasal dari berbagai kekurangan yang ada di dalam program BOS, menurut Yusuf, pembebasan peserta didik berasal dari pungutan cost operasional sekolah telah menaikkan angka partisipasi sekolah khususnya siswa berasal dari keluarga miskin. Meski sekolah belum seluruhnya gratis, ia menilai program BOS secara penting telah menurunkan halangan kelas miskin ke pendidikan.

Untuk di jenjang pendidikan tinggi, ia mendorong pemerintah untuk memperluas jangkauan program Bidikmisi (Bantuan Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi). Menurut dia, penerima Bidikmisi selayaknya tidak hanya mahasiswa berasal dari keluarga kelas bawah saja tapi termasuk mahasiswa berasal dari keluarga kelas menengah.

Sejak 2020, program Bidikmisi bergeser menjadi Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, dengan implikasi pendaftar KIP Kuliah kudu merupakan penerima KIP pas SMA atau penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Namun alih-alih diperluas, Yusuf menyayangkan KIP Kuliah justru makin lama menyempit kategori penerimanya.

Yusuf pun mengatakan ada inspirasi lebih progresif yang mampu ditunaikan pemerintah mendatang, yakni kuliah gratis di seluruh perguruan tinggi negeri (PTN). Dengan mengakses akses penduduk seluas mungkin ke PTN, Yusuf meyakini dampaknya dapat terlampau besar di dalam mengatasi kemiskinan dan pemerataan ekonomi.

Baca Juga: Pentingnya Mempersiapkan Dana Pengajaran Si Semenjak Dini

Menurut dia, cost kuliah gratis merupakan kebijakan terbaik untuk mendorong partisipasi mahasiswa dan talenta terbaik bangsa untuk menempuh pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi, ucapnya, dapat membekali pelajar dengan keahlian yang relevan dan diperlukan oleh perekonomian, baik kapasitas manajerial dan profesional, maupun kapasitas riset untuk inovasi.

Adapun beasiswa luar negeri sendiri telah ada di dalam skema yang diselenggarakan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Berdasarkan data LPDP, total penerima beasiswa LPDP sebanyak 35.536 orang sampai 2022. Dari jumlah itu, ada 44,3% penerima beasiswa LPDP yang berkuliah di 562 universitas luar negeri. Adapun total total alumni beasiswa LPDP telah raih 17.979 orang.